Profil

SEKILAS TENTANG PENDIRI PESANTREN HIDAYATUT TAIBIN

 

1. Asal Usul dan perilaku

 

Drs. H. Supri Abdullah adalah putra dari Bapak Abdullah seorang petani yang hidupnya boleh dikatakan pas-pasan. Sedangkan ibunya Bernama Kasinten. Bapak Abdullah dan Ibu Kasinten adalah merupakan keluarga yang hidupnya sederhana, dan dia rela mengorbankan harta dan tenaganya untuk pendidikan anak-anaknya,

 


Drs. H, Supri Abdullah atau yang lebih di kenal oleh masyarakat Drancang dengan “panggilan Kyai Haji Supri Abdullah, dilahirkan di Surabaya pada tgl. 17 Agustus 1949, empat tahun setelah Indonesia merdeka.

 

Drs. H. Supri Abdullah pertama kali masuk pendidikan di Madrasah Ibtidaiyah ketika masih berusia 6 tahun dan Lulus pada tahun 1961. Kemudian pada tahun itu juga melanjutkan perdidikannya di Pondok Pesantren Langitan selama 1 th, dan pada tahun

1965 melanjutkan sekalah di PGA dan lulus pada tahun 1969 dan pada tahun 1970 ia masuk di PGA selama 6 tahun dan lulus pada tahun 1976, dan pada tahun 1978 ia telah pulang dan mengajar di Madrasah Ibtidaiyah Darul Ulum Sidojangkung dan sekaligus dia juga termasuk perdirinya pada masa itu.

Pada tahun 1973 tepatnya tanggal 1 Juli dia (H. Supri Abdullah) merikah dengan wanita dari Desa Drancang yang bernama Sumartik dan dikarunia 5 anak.

Tahun 1985 H. Supri Abdullah diangkat sebagai pegawai Negeri dan ditugaskan di SDN Drancang sebagai Guru Agama, dan pada tahun 1985 istrinya juga diangkat sebagai pegawai negeri di SDN Palemwatu Menganti Gresik. Ketika ada peraturan pemerintah mengenai keharusan seorang guru minimal Sarjana, maka H. Supri bersama istrinya  melanjutkan ke Perguruan Tinggi yaitu di Universitas Wisnu Wardhana di Malang pada Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan sampai meraih gelar Sarjananya di sana, sedangkan istrinya juga berhasil meraih gelar Sarjananya di Gresik pada tahun 1993 .



 

2. Kegiatan Dakwah H, Supri Abdullah


KH. Supri Abdullah mulai berdakwah di Desa Drancang tahum 1973 dengan mengadakan kegiatan kegiatan pengajian rutin keliling rumah yang diadakan setiap satu minggu sekali dan juga mengadakan Jam'iyah tahlil yang dilaksanakan setiap hari Rabu dilanjutkan dengan ceramah Agama oleh H. Supri sendiri.

 

Di samping itu H. Supri juga sering mendapat undangan cerahah di desa-desa di sekitar Kec. Menganti dan menjadi Khotib di setiap hari Jum'at dan juga pada acara-acara walimahan. H. Supri juga mengadakan kegiatan istighosa setiap dua minggu sekali dan shalat malam setiap satu minggu sekali yang diikuti oleh para santrinya dan juga masyarakat desa Drancang.


Seperti apa yang dikatakan Bapak Sampir kepada peneliti, bahwa pada awal sebelum datangnya KH. Supri Abdullah ke desa Drancang, kegiatan-kegiatan keagamaan tidak begitu semarak dan banyak pemuda-pemuda disana yang sering mabuk-mabukan, tetapi setelah datangnya KH. Supri dan berkat usahanya berdakwah, pemuda-pemuda tersebut mulai mau menghilangkan kebiasaannya minum-minuman keras. (wawancara tanggal 20 April 1996 ).

 

Bermula dari berbagai kegiatan dan dalam semangatnya untuk mengembangkan dan membangun masyarakat desa Drancang khususnya bidang keagamaan mulailah masyarakat desa Drancang memangil H. Supri Abdullah dengan panggilan Kyai.

 

"Sejak dari awal Bapak H. Supri Abdullah datang ke desa Drancang sebagai guru agama di Madrasah Ibtida'iyah Darul Ulum Drancang, dan memang Bapak Supri berasal dari pendidik agama baik formal atau non formal. Masyarakat juga melihat Bapak H. Supri mempunyai kelebihan dalam bidang keagamaan"

(Wawancara dengan Bapak Nur Kholis, 25 Januari 1996 ).

 




Masyarakat desa Drancang sudah percaya akan kelebihan yang dimiliki oleh H. Supri Abduhlah dengan terbentuknya Jam'iyah tahlil dan disertai pula dengan kegiatan ceramah agama yang di pimpin langsung oleh Beliau, dan kegiatan itu berjalan sampai sekarang (red. 1997), disamping itu juga H. Supri juga termasuk khotib tetap di desa Drancang dan sekitarnya.

 





Setiap hari waktunya juga digunakan untuk memberikan pengajian rutin diberbagai desa, bahkan H. Supri pernah bilang bahwa saya akan bersedia dan membantu memberikan mauidhoh hasanah kalau saya dibutuhkan dan saya mampu. Jadi hampir seluruh atau sebagian besar waktunya digunakan untuk kepentingan ummat dan agama.


Dengan seringnya beliau tampil dan memberikan ceramah agama kepada masyarakat, baik pada acara walimahan, syukuran, perkawinan dan lain sehagainya, maka masyarakat desa Drancang tidak canggung lagi untuk memanggil H. Supri Abdullah dengan panggilan Kyai.

 

Apabagi setelah beliau pada tanggal 17 Januari 1983 mendirikan pondok pesantren dan sekarang (red 1997) sudah mempunyai santri sekitar 100 orang, yang terdiri dari 70 laki-laki dan 30 perempuan.

 

Sehingga kebanyakan para santrinya juga memanggil dengan panggilan Kyai, maka masyarakat pun juga ikut memanggil dengan panggilan kyai.

( Wawancara dengan bapak H. Ali mustofa, tanggal 26 Mei 1996 ).